Sejarah GMIM Sola Gratia Tikala

Jemaat Sola Gratia Tikala terdeteksi telah ada sejak sekitar tahun 1675 atau sekitar 348 tahun yang silam. Karena pada saat itu ada laporan yang menyatakan bahwa di pinggiran kota Manado, tepatnya di area Ares-Tikala telah ada jemaat Kristen yang dilayani oleh Guru Injil Hendrik Sybarantsz dari Guru Injil Johanes Adams. Bahkan pelayanan itu dilanjutkan sampai masa pelayanan Pdt. Linemaan dibantu oleh Guru Injil pribumi Lambertus Mangindaan pada sekitar tahun 1856-1861.

Saat itu jemaat-jemaat di Manado dilayani oleh Pendeta Montanus. Kemudian ditemukan sebuah dokumen baptisan dalam doop register protestansche gemeente te Tikala (daftar baptisan protestan umum di Tikala) dengan penanggalan tahun 1877. Artinya bahwa telah terjadi pembaptisan di Tikala yang adalah area pelayanan dari Gereja (Besar) atau Gereja Sentrum sekarang. Ritual pembaptisan ini memberi tanda bahwa pasti sudah ada jemaat di Tikala saat itu, yaitu sekitar 146 tahun yang silam. Dalam ingatan para tua-tua jemaat bahwa sesungguhnya pada sekitar tahun 1920-an (1923) sudah ada kanizah sebagai tempat ibadah bagi jemaat yang ada di seputaran Tikala, Ares, Banjer, Paal II, Paal IV, Paniki, Mapanget, Lapangan, Kayuwatu, Kairagi, sampai perbatasan Maumbi yang lokasi kanizahnya ada di jalan Ares-Tikala. Sehingga berdirinya jemaat Tikala jika dilihat dari historis tempat beribadah sudah sejak 100 tahun lalu

Penanggalan ke-78 tahun memang diambil dari tahun 1945 ketika untuk pertama kalinya gedung bekas Societeit Jepang (gedung gereja sekarang) dijadikan tempat ibadah jemaat Tikala. Saat itu jemaat harus membawa kursi/bangku dari rumah masing-masing karena belum tersedia tempat duduk kala itu. Ibadah pertam kali di gedung dipimpin oleh Pdt. A. Rondo.


  • Tahun 1858 – 1861 jemaat Kristen di Tikala dan sekitarnya mulai dilayani oleh Zending Linemaan dan ditemani Guru Injil Pribumi Lambertus Mangindaan.
  • Dengan terbukanya pemukiman, Ibadah-ibadah jemaatKristen Tikala mulai ada sejak tahun 1920 dengan adanya kanizah di dekat pertigaan Jalan Ares-Tikala, dan dilayani oleh Inlandsch Leraar Paat.
  • Bangunan kanizah dijalan Ares berukuran 6×8 m2 sekaligus difungsikan sebagai Sekolah Dasar 3 tahun atau Sekolah Zending.
  • Tahun 1927-1928 ibadah-ibadah jemaat di Tikala untuk menampung anggota jemaat yang datang dari Aris Tikala, Paniki, Kaiwatu, Kairagi, Paal II, Maumbi, dan sekitarnya.
  • Sampai tahun 1930 di masa Inlandsch Leraar Paat, para pelayan yang turut membantu pelayanan jemaat, antara lain: Eduard Nangon, Mesak Rotty, Tundo Rotinsulu, Lasut, Jaksa Rambing, Jaksa Gontha, Lena Rotinsulu, Sangie, Hanok Jocom, Karel Paulus, Willem Pietersz, lyang Willem, Johanes Pietersz, Sambul, dll.
  • Tahun 1942 – 1944 tentara Jepang menguasai Manado sampai akhir September 1944, jemaat Kristen Tikala dilayani di pengungsian oleh Inlandsch Leraar Wuisan; dan Ketua Klasis Manado Pdt. Lumanauw dibantu Guru Jumat Darius Lasut; dan untuk angkutan transportasi Roda Ver ditangani oleh Hukum Tua N.B Lasut.
  • September 1944 Kota Manado dibom habis-habisan olen tentara Sekutu dan sepertiga Kota Manado hancur termasuk gedung kanizah di Jalan Aris-Tikala.
  • Untuk sementara waktu jemaat Tikala tidak punya tempat untuk beribadah. Ibadah-ibadah jemaat kemudian dilaksanakan di halaman rumah Bpk. Pnt. Engelen.
  • Selanjutya tempat ibadah sementara di gedung ambachtschool (Sekolah Teknik Pertukangan yang didirikan tahun 1939 pindahan dari Wasian Kakas) sekarang SD, SMP Kristen Tikala. Adapun mereka yang mengusahakan tempat untuk bergereja antara lain: Pdt. A. Rondo, Soleman Sambul, Engelen, R.A Lengkong, Kaihatu, Simon Darame, Solang (muda), dan Rotinsulu. Tiang Listrik menjadi penanda lonceng gereja yang berdiri di atas halaman SD Kristen yang sekarang.
  • Selanjutnya, ibadah-ibadah jemaat mulai dilaksanakan di rumah-rumah pada setiap hari Rabu atau Kamis, dan pada hari Minggu disatukan di ambachtschool.
  • Tanggal 1 Oktober 1945 penempatan Pdt. A. Rondo di Tikala sebagai Ketua Jemaat yang pertama sesudah Inlandsch Leraar.
  • Atas inisiatif dan prakarsa beberapa majelis jemaat bersama-sama dengan Pdt. A. Rondo, mulailah ada usaha-usaha dan diplomasi untuk mendapatkan gedung societeit Jepang sebagai tempat ibadah.
  • Pada akhir tahun 1947, atas usaha beberapa orang yang berpengaruh di Manado di masa itu, seperti G. V. Damapoli (seorang Hakim di Manado) atas nama jemaat menyampaikan permohonan kepada Residen Manado mengenai peminjaman gedung societeit untuk dipakai sebagai tempat beribadah jemaat Tikala.
  • Oleh Residen Manado, permohonan itu ditanggapi baik, dengan keterangan bahwa gedung tersebut dapat digunakan, namun oleh karena sesuatu sebab gedung tersebut belum dapat langsung digunakan. Usaha-usaha pun dilakukan untuk menyurat, memohon izin penguasa NIBI (suatu organisasi pampasan perang) yang waktu itu dikepalai oleh Mr. Spaan.
  • Pada Agustus 1948 Mr. Spaan memberi jawaban bahwa gedung Societeit Jepang bukan hanya dapat dipinjam tetapi dapat dimiliki.
  • Minggu kedua Bulan September tahun 1948 ibadah pertama kali dilaksanakan di gedung yang sekarang gedung bekas Societeit Jepang atau Night Club dan jemaat membawa sendiri kursi/bangku dari rumah.
  • Khadim ibadah pertama di gedung in adalan Pdt. A. Rondo (selaku ketua Jemaat)
  • Tanggal 1 Oktober tahun 1961 peletakan batu pertama pembangunan gedung gereja (renovasi besar-besaran) yang dilakukan oleh Walikota Manado Frans Walandouw dan dari Badan Pekerja Harian (BPH) Sulawesi Utara Tengah, Bpk. Otto Fortinatus Pua.
  • 9 Januari 1994 peresmian gedung Gereja oleh Gubernur Sulut C.J Rantung dan ditahbiskan oleh Ketua Sinode Pdt. K.H. Rondo, M. Th (lihat prasasti gereja).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *